Friday, November 24, 2017

Intelektualisme Amirul Mukminin

Oleh : Arif Setya Basuki (PW 2014)

Apa yang pertama kali kita dengar apabila mendengar nama “Umar bin Khattab”?
Sahabat yang paling tegas? Al Faruq? Amirul mukminin?

Kita semua disini, tentu sudah pernah mendengar nama Umar bin Khattab, sang Amirul Mukminin. Sejarah Umar adalah sejarah tentang bagaimana seorang antagonis yang begitu keras menentang Rasulullah dapat berbalik total menjadi salah satu pendukung Islam yang terbesar.
Kisah tentang hal ini mungkin sudah sangat terkenal oleh umat muslim.
Berikutnya berturut-turut, umat Islam menyaksikan seorang tokoh yang sangat serius mempelajari Al Qur’an, dan mengawal serta mengaplikasikan kehidupan Rasulullah selama perjalanan hidupnya.

Menariknya, mungkin ada satu pelajaran yang mau mungkin jarang disampaikan atau ditonjolkan dalam kehidupan Umar. Hal itu adalah intelektualisme sang Amirul Mukminin di hadapan ajaran sempurna yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Mungkin bagi Umar, kebesaran Rasulullah bukan hanya terbatas pada dirinya, Al Amin yang dihormati kaumnya. Lebih dari itu, Allah telah menunjuk Muhammad untuk menerima wahyu-Nya yang terakhir. Umar sebagai seorang sahabat Rasulullah, dengan pandangan yang sedemikian rupa ternyata tidak akan segan-segan mengajukan keberatan kepada tindakan atau gagasan Rasulullah yang dinilainya tidak berdasarkan petunjuk langsung dari Allah.

Nurcholish Madjid, walaupun terkenal sebagai tokoh yang liberal, memiliki beberapa karya yang kiranya patut digunakan sebagai pelajaran. Dalam salah satu sumbangan bukunya, “Khazanah Intelektual Islam”, Cak Nur menunjukkan bahwa Umar disamping seseorang yang beriman secara teguh, namun juga tidak dogmatis.
Umar adalah seorang Ulama, yang dengan kapasitasnya mampu mengemukakan dan melaksanakan ide-ide inovatif yang sebelumnya dicontohkan di oleh Rasulullah.

Contoh yang masyhur misal adalah berkaitan dengan ide awal pembukuan Qur’an, yang sempat ditolak oleh Abu Bakar. Saran Umar akhirnya diterima setelah beberapa argumen yang kuat disampaikan Umar dan musyawarah diadakan bersama sahabat yang lain. Naskah naskah dari jaman Abu Bakar inilah yang kemudian dijadikan sebagai pegangan Al Qur’an yang ada, dimana kemurniannya telah terpelihara hingga detik kita, yang insya Allah kita baca setiap hari.

Contoh kedua tindakan Umar yang nampak tidak sejalan dengan perkembangan arti harafiah Qur’an juga terjadi pada saat masanya tiba sebagai seorang Amirul Mukminin. Pembagi-bagian tanah di Syiria dan Iraq yang baru dibebaskan tidak kepada para tentara Muslim mendapatkan kecaman-kecaman, termasuk dari sahabat sekelas Bilal. Kemantapan bagaimanapun didapatkan oleh Umar, sekali lagi setelah musyawarah diadakan untuk menyelesaikan masalah ini, dengan dukungan sahabat yang lain.

Berbagai macam kritik telah dialamatkan pada Umar dengan sikap-sikapnya. Mulai dari kalangan Sahabat sendiri, kaum Syi’ah, hingga tokoh yang datang ratusan tahun datang setelahnya, seperti Ibn Taimiyyah. Disamping berbagai kritik yang disampaikan kepada Umar tersebut, mungkin ada satu hal yang bisa kita sepakati, bahwa masa Umar adakah masa keemasan Islam periode awal. Madinah menjadi sebuah kota yang mana masyarakatnya memancarkan seterang-terangnya cahaya, masyarakat dengan Din Islam. Keberhasilan masyarakat itu, juga seperti halnya pada zaman Rasulullah dan Abu Bakar tak lepas dari peran pemimpin-pemimpinnya. Pemimpin-pemimpin yang mampu menerapkan Qur’an tidak hanya sebagai dokumen namun juga pedoman hidup yang teraplikasikan di masyarakat.
Umar adalah salah seorang pemimpin itu. Sebagaimana ia dulu masuk kedalaman Din ini ketika pertama kali mendengarkan Qur’an, dalam fase kehidupannya yang selanjutnya Umar mampu menyingkap pesan-pesan syumul yang terdapat dalam Qur’an.

Pertanyaannya sekarang, bagaimanakah dengan kita? Mampukah kita menangkap pesan Qur’an dengan tempelan “intelektual” yang orang-orang kepada kita? Atau kita baru sekedar membaca dan mengejar target-target harian?
Semoga Allah selalu memberi cahaya Nya di untuk hati kita, dan mengangkatnya dari kegelapan. Khususnya penulis dengan segala kejahilannya.
Hasbunallah wa ni’mal wakil..
Wallahu’alam

Referensi : Madjid, Nurcholish. Khazanah Intelektual Islam. Penerbit Bulan Bintang : Jakarta.

Scroll To Top
shared on azmobi.net