Taubat
Taubat

 

Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR Tarmidzi)

Ibaratnya seperti kita mencoret wajah kita dengan spidol hitam. Setiap berbuat maksiat kita mencoret wajah kita, hingga lama-lama wajah kita penuh dengan coretan spidol hitam hingga sulit dikenali.

Ibnu Abbas berkata, ”Sesungguhnya kebaikan itu penyebab wajah bercahaya, hati bersinar, rezeki dilapangkan, dan dicintai oleh semua makhluk. Dan sesungguhnya kemaksiatan penyebab wajah hitam, hati gelap gulita, rezeki sempit, dan dibenci oleh semua makhluk.”

Maksiat dan dosa punya pengaruh sangat dahsyat dalam kehidupan umat manusia. Bukankah umat-umat terdahulu ditimpa azab oleh Allah, sebab-sebab kemaksiatan yang dilakukan mereka.  Akibat berbuat maksiat, kaum ‘Ad diluluhlantakkan angin putting beliung. Akibat perbuatan keji, bumi kaum Sodom dibolak-balikan dan semua makhluk hancur.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah menulis bahwa kemaksiatan besar atau kecil yang dilakukan manusia bermuara pada tiga hal. Pertama, terikatnya hati pada selain Allah. Kedua, mengikuti nafsu amarah. Ketiga, mengikuti hasrat syahwat. Puncak dari terikat pada selain Allah adalah kesyirikan. Puncak seseorang mengkuti amarah adalah membunuh dan puncak seseorang mengikuti hasrat syahwatnya adalah perzinaan.

Kemaksiatan menyebabkan kita meremehkan dosa-dosa kecil hingga kita tidak kehilangan rasa malu dari berbuat maksiat, hati kita menjadi lalai dank eras, terhalang dari ilmu dan rezeki, hilangnya nikmat Allah dan potensi kekuatan.

Firman Allah,

{Katakanlah: “Hai hamba-hamba’Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”} (QS. Az-Zumar: 53)

Tidakkah firman Allah ini dapat melapangkan hati, menghilangkan keresahan, dan menghapuskan kegundahan Anda? Tampak bahwa Allah sengaja menyapa manusia dengan kalimat “Wahai hamba-hamba-Ku…” Adapun tujuannya, tak lain adalah menyatukan hati para hamba-Nya dan menyentuh perasaan mereka agar mendengarkan ayat tersebut dengan baik. Setelah itu, terlihat bahwa Dia mengkhususkan firman-Nya itu untuk orang-orang yang melampaui batas. Itu dilakukan Allah karena mereka merupakan golongan manusia yang paling banyak melakukan dosa dan kesalahan. Nah, bagaimana dengan kita yang tentu saja juga sering melakukan dosa dan kesalahan?

Dalam ayat tersebut, Allah juga melarang hamba-Nya berputus asa dalam memohon ampunan Allah. Allah mengabarkan pula bahwa Dia akan mengampuni siapa saja yang bertobat kepada-Nya, baik dari dosa-dosa kecil maupun yang besar.

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu berdoa kepada-Ku dan mengharapkan-Ku maka Aku akan mengampunimu atas semua dosa yang kamu lakukan, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, andaikata dosa-dosamu itu sampai ke puncak langit kemudian kamu meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan dosa yang besamya seisi bumi seluruhnya, kemudian datang menemui-Ku dan tidak menyekutukan Aku dengan yang lain niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan yang besamya seisi bumi seluruhnya.”

 

 اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ

, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.

X