Kontinu
Kontinu

 

Para ulama mengatakan iman itu; tasdiqu bil qolbi (diyakini dalam hati), iqrou billisan (diucapkan dengan lisan), amalu bil arkan (diwujudkan dengan perbuatan), iman yazid wa yanqus (iman kadang naik kadang turun), yazid bit tho’ah wa yanqus bil maksiat (naik dengan ketaatan dan turun karena kemaksiatan).

Oleh karena iman kadang naik kadang turun, mungkin kadang kita merasa sangat bersemangat dalam melakukan ibadah, terkadang merasa berat dalam melakukan ibadah. Sehingga kita membutuhkan keistiqomahan saat kita beribadah, ketika kita berat melakukan ibadah kita tetap dapat melakukan ibadah dengan baik dan ketika kita dalam keadaan bersemangat kita tidak terlalu melampaui batasnya.

Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, istiqomah adalah berjalan di atas jalan kebenaran yang lurus tanpa menyimpang sedikit pun, dan menjalankan syariat Islam sesuai dengan manhaj Rasulullah saw dalam melakukan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.

Keistiqomahan merupakan konsekuensi kita dalam bersyahadat.

Umar bin Khattab ra berkata: “Istiqomah adalah komitment terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”

Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt”

Rasulullah mengatakan. “Amal yang paling disukai Allah Ta’ala adalah amal yang dikerjakan terus menerus walaupun jumlahnya sedikit,” (Hr. Muslim).

Atau kita bisa menyebut istiqomah sebagai ke-ajeg-an kita dalam beribadah. Kontinuitas kita dalam beribadah.

Sehingga kita tidak melakukan ibadah atas dasar nafsu kita, ketika semangat tilawah 2 juz tapi baru baca lagi seminggu kemudian. Ketika semangat tahajud shalat 8 raka’at tapi nanti baru shalat tahajud lagi sebulan kemudian.

Jadi muslim yang beristiqomah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Ia seperti batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti.  Ia tidak mudah loyo atau mengalami futur dan degradasi dalam menjalankan perintah dan larangan Allah. Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan dalam menjalankannya.

”istiqamah adalah jalan menuju keberhasilan di dunia dan keselamatan akhirat. Seseorang yang memiliki sikap istiqamah akan selalu merasa dekat dengan kebaikan, rezekinya dilapangkan, dan akan jauh dari pengaruh buruk hawa nafsu dan syahwat. Dengan hati istiqamah, malaikat akan turun untuk memberikan keteguhan dan ketenangan dari rasa takut terhadap azab kubur. Selain itu, hati yang istiqamah akan mempermudah untuk dihapus dosa-dosanya,” papar Imam al-Qurthubi.

Allah sangat menghargai dan memuji orang-orang yang mampu mempertahankan sikap istiqamah. Merekalah yang berani menegakkan kebenaran dan tidak takut dengan konsekuensi keimanan. Bahkan tidak akan menyesal bila resiko betul-betul menimpa dirinya sebagai kaum mukminin. Allah berfirman,
”Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ’Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap dalm pendiriannya (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ’janganlah kamu merasa takut dan sedih dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat : 30)

Kita dapat mengambil contoh dari keteladanan Bilal bin Rabbah yang tetap mempertahkan dan terus melakukan secara kontinu menjaga diri dalam keadaan berwudhu. Bahkan sebab kontinuitasnya dalam berwudhu dan melaksanakan shalat shunah setelah berwudhu, Rasulullah sudah mendengar suara sendalnya di surga.

Ada 4 hal yang harus ditempuh agar dapat menjadi hamba-hamba Allah yang istiqomah,

  1. Kesadaran dan pemahaman yang benar
  2. Mendekatkan diri kepada Allah dan merasakan pengawasan-Nya.
  3. Berteman dengan orang-orang shalih, ”seseorang itu mengikuti agama kawannya, karena itu perhatikanlah kepada siapa orang itu berkawan.”
  4. Intropeksi dan sungguh-sungguh. Allah swt berfirman, ”Setiap pribadi muslim harus mengetahui bahwa musuh utama dirinya adalah hawa nafsunya sendiri yang memang memiliki tabiat selalu condong pada kejahatan dan perbuatan dosa” Qs Yusuf : 53

 

“يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلى دِيْنِكَ “

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu”

(HR Imam Ahmad, Imam Tirmidzi dan lainnya)

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

 “Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadaMu.”

(HR. Muslim)

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X