Sebagai aktivis dakwah, wajarlah bila orang di sekitar kita memandang kita memiliki sesuatu yang “lebih”. Padahal tidak selalu seperti itu. Namun semoga benar demikian. Kebanyakan orang enggan untuk memulai berdakwah dikarenakan stigma tersebut. Katanya, “Aku sendiri belum baik, bagaimana mau mengajak orang lain?” tidak terkecuali aku. Namun Alhamdulillah, atas izin Allah, aku mendapat kesempatan untuk menjadi admin OA JMG yang tugasnya kurang lebih adalah membagikan informasi, menyampaikan ajakan, dan utamanya mengajak kepada kebaikan.

Singkat cerita pada sebuah kajian yang ku ikuti terdapat pertanyaan menarik, “Bagaimana sih kita sebagai seorang muslim/muslimah mengajak seseorang teman kita dan memberi tahu tentang adab berkuliah selama daring?” Mbak Habibah, sebagai pengisi kajian, disitu menjawab bahwa cara terbaik untuk mengajak orang lain adalah dengan menjadi teladan. Mencontohkan itu adalah bentuk pengajaran terbaik. Baik dari kita pribadi, atau kisah-kisah bagaimana ulama terdahulu. Termasuk adab pula untuk mengajak sesuatu ketika kita sudah melakukan agar tidak lompat adab. Bismillah, kita tanya diri sendiri, “Sudah melakukan hal tersebut belum?” Hal itu membuatku berpikir, “Kalau selama ini aku mengajak kebaikan tapi aku sendiri belum bisa melaksanakannya, untuk apa?”. Takut sekali aku akan dibenci Allah SWT.Teringat akan surat As-Shaff ayat 2-3 yang berbunyi,

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” 

(QS. Ash Shaff: 2-3).

  Pada surat Al-Baqarah ayat 44 juga disebutkan kecaman Allah terhadap Ahli kitab, memerintah untuk berbuat baik, tapi diri sendiri tidak mengamalkan,

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” 

(Al-Baqarah:44)

Namun ayat ini jangan ditelan mentah-mentah, sobat. Ayat di atas tidak menunjukkan bahwa jika seseorang tidak mengamalkan yang ia ilmui berarti ia meninggalkan amar maruf nahi munkar secara total, sebab sejatinya manusia memiliki dua kewajiban yaitu memerintahkan (mendakwahi) orang lain dan mengajak pula diri sendiri.

Idealnya memang seseorang melakukan kedua-duanya. Mengajak diri sendiri sekaligus mengajak orang lain. Jangan cuma mendakwah tapi juga ikut berbenah. Jika seseorang meninggalkan salah satunya, jangan sampai ia meninggalkan yang lainnya. Jika kedua-duanya ditinggalkan berarti itu kekurangan yang sempurna. Jika hanya menjalankan salah satunya, berarti tidak mencapai derajat pertama (derajat kesempurnaan), namun tidak tercela seperti yang terakhir (derajat ketidaksempurnaan).

Penjelasan di atas adalah kutipan dari penjelasan Syaikh As Sa’di dalam Tafsir Al Karimir
Rahman, hal. 51.

Manusia memang akan lebih senang mengikuti orang yang mempraktekkan langsung dibanding dengan orang yang cuma sekedar berucap. Penting sekali untuk mengajak diri sendiri sebelum mengajak orang lain, sobat. Namun apabila belum bisa sepenuhnya, atau masih berproses mengusahakannya, tidak perlu berkecil hati. Kita harus tetap semangat menebar manfaat! Kalau kita menunggu baik, kapan baiknya? Manusia tidak akan pernah bisa sempurna. Manusia hanyalah makhluk papa dan tidak punya daya. Tetaplah berdoa semoga Allah menggerakkan hati kita untuk selalu tertuju kepada-Nya. Selayaknya doa Nabi Ya’kub A.S., “Semoga Allah SWT. selalu membimbing kami ke jalan yang benar.” Juga sebagaimana doa Nabi Musa A.S dalam surah Al-Qasas ayat 22, 

“Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”.

Aamiin. (JMG/Naurah)

Referensi : 

https://rumaysho.com/8579-mengajak-orang-lain-untuk-baik-namun-lupa-akan-diri-sendiri.html 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X