Tuesday, December 11, 2018

Hijrah : Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi?

Assalamu’alaikum Sahabat Muslim Geografi

man sitting alone.jpg.838x0_q80

Foto : mnn.com

     Bagaimana kabar iman hari ini? Tanpa terasa, perjalanan hidup di dunia semakin bertambah. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun terlewati. Tahun baru Hijriah telah kembali menyapa, sementara jika menengok lagi seperti apa diri ini, rasa-rasanya masih tidak pantas untuk memperoleh kehidupan serba nikmat. Langkah kecil terus mengiringi perjuangan panjang hingga mencapai suatu titik di mana usia kita mungkin tidaklah muda lagi. Lantas, dengan semakin bertambahnya tahun, bagaimana perasaa kita? Bahagia, sedih, khawatir, atau justru santai-santai saja?

Menengok kembali sejarah masa lampau, lahirnya tahun Hijriah dilatarbelakangi oleh adanya persistiwa hijrah di masa Rasulullah Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam. Hijrah terjadi karena kaum muslim diusir dari Makkah oleh kaum kafir Quraish. Rasulullah kala itu berpindah ke wilayah Madinah beserta para sahabat dan pengikut setianya. Hijrah kala itu sebenarnya merupakan suatu hal yang sangat berat karena banyak dari para muhajirin (orang yang berhijrah) harus merelakan harta benda kekayaan dan juga keluarga. Hijrah kala itu adalah perjuangan antara hidup dan mati demi mempertahankan akidah dan mengikuti perintah Rasulullah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam sebuah ayat,

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”

(QS. Al-Baqarah [2] : 218)

 

Ayat tersebut memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa ternyata Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berhijrah dengan mengharap rahmat-Nya. Kekuatan dan kemauan untuk behijrah sangat mulia di sisi-Nya karena hakikatnya hijrah itu untuk kebaikan, bukan keburukan. Dalam suatu ayat, Allah juga menerangkan tentang siksanya orang-orang yang tetap berdiam di Makkah padahal sebenarnya mereka dapat berhijrah, hingga menemui ajal dalam kondisi disiksa kaum kafir. Mungkin saja manusia mengira bahwa tanpa melakukan hijrah, mereka akan aman-aman saja dari siksaan Allah, tetapi ternyata tidak demikian. Meski kematian itu disebabkan oleh siksa kaum kafir karena orang tersebut tetap ber-Islam,  Allah tetap menyalahkannya karena telah menyiksa diri sendiri dengan tidak berhijrah. Hal ini  membuktikan bahwa hakikatnya hijrah tersbut merupakan penyelamat diri baik di dunia maupun di akhirat dari segala marabahaya dan tipu daya. Oleh karenanya, jika jalan kebaikan itu memang dapat dicapai dengan berhijrah, susah ataupun senang harus dijalani dengan sepenuh hati.

Momen tahun baru Hijriah kali ini seharusnya dapat dijadikan momentum atau titik balik bagi setiap muslim untuk kembali ke jalan-Nya. Evaluasi diri atau muhasabah adalah lebih utama dibandingkan hanya bersuka cita menyambut tahun baru. Muhasabah berkaitan erat dengan persiapan kita menuju kematian. Kita memang tidak pernah tahu kapan akan menemui-Nya, tapi satu hal yang pasti adalah dengan lahirnya tahun baru 1440 H maka umur yang disediakan oleh-Nya untuk kita otomatis berkurang satu tahun. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya”.

(QS. Ali ‘Imran [3] : 185)

 

Makna dari ayat tersebut sudah sangat jelas yakni sadar tidak sadar, mau tidak mau, kita ini sebenarnya dalam perjalanan menuju Sang Khalik, akan merasakan sebuah kematian. Setiap perbuatan dan langkah yang kita tempuh pasti terekam dalam kitab yang nantinya akan diperoleh di yaum al akhir. Lantas, apakah kita tidak malu ketika menerima rapor yang jelek dari Allah? Apakah kita tidak takut ketika kitab itu diberikan dari sisi kiri dan berarti bahwa kita akan memasuki siksa yang pedih?

Oleh karena itu, marilah sahabat, berhijrahlah. Berhijrahlah sebelum semuanya terlambat dan kita akan menyesal di hari esok. Hijrah bukan hanya diartikan sebagai perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah proses menuju kebaikan. Hijrah adalah simbol kekuatan seorang muslim yang mana di setiap saat selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ketika kita bisa dengan mudah menuliskan mimpi-mimpi duniawi dan cita-cita masa depan, maka mengapa kita tidak bisa bercita-cita untuk hari esok (akhirat)? Bukankah Allah sudah mengingatkan kita dalam suatu ayat,

 

“ Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa ynang kamu kerjakan”

(QS. Al-Hasyr [59] : 18)

     Sesungguhnya hidup kita yang sangat sebentar ini tidak akan berarti apa-apa di sisi-Nya jika tanpa persiapan dan amal. Visi hidup yang utama adalah mencapai Jannah-Nya dan itu semua hanya bisa tercapai ketika kita sudah mendapat ridho-Nya. Untuk mencapai itu semua tentu saja kita harus mengisi hidup ini dengan segenap kekuatan dan cinta dalam ber-Islam. Islam yang sebenar-benarnya dan kaffah atau menyeluruh. Hijrah adalah salah satu jalan yang dapat dijadikan motivasi untuk terus berkembang. Hijrah adalah bukti bahwa kita pernah mengukir perjalanan hidup yang penuh lika-liku untuk mencapai ridho-Nya. Hijrah adalah cerminan bahwa kita terus melangkah, tidak hanya berdiam diri kemudian menunggu ajal itu datang. Dan terakhir, hijrah adalah kebutuhan kita, bukan untuk Rabb kita. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

 

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang uang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik”.

(QS. Al-Hadid [57] : 16)

IMG-20180911-WA0000

Foto : TIM Media Opini dan Jaringan , Jamaah Muslim Geografi UGM

Scroll To Top
shared on azmobi.net